Memahami Hadis Salat dari Sisi Psikologi Dan Hukum Islam, Prodi Tadri Matematika Gelas Kuliah Tamu Bersama Penyuluh Agama
- Diposting Oleh Admin Tadris Matematika
- Kamis, 11 Juni 2026
- Dilihat 49 Kali
Dalam rangka memperdalam pemahaman mahasiswa mengenai kontekstualisasi hadis dalam kehidupan sehari-hari. Program studi Tadris Matematika UIN Madura menyelenggarakan kuliah tamu Hadis Tarbawi secara daring pada Hari Kamis, 11 Juni 2026. Kuliah tamu kali ini mengusung tema yang sangat relevan dan dekat dengan dunia mahasiswa, yakni Efektivitas Metode Reward dan Punishment dalam Hadis Salat. Kuliah tamu ini dihadiri oleh Mahasiswa Tadris Matematika Angkatan 25 sebanyak 25 orang.
Acara yang dimulai pukul 08.40 WIB ini menghadirkan pakar sekaligus praktisi di bidangnya, yakni Ibu Rizki Firmananda, S.H.I., yang merupakan Penyuluh Agama Islam di KUA Bondowoso Kementerian Agama RI. Dosen pengampu Hadis Tarbawi Bapak Adin Lazuardy Firdiansyah, M.Mat. dalam sambutannya menyampaikan bahwa pemilihan topik ini sengaja dirancang agar mahasiswa tidak kesulitan dalam mencari referensi ilmiah. Oleh karena itu, hadis tentang salat bagi anak-anak merupakan salah satu dalil yang paling sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Namun, fokus diskusi tidak hanya sekadar membaca tekstual hadis, melainkan membedah implementasi metode reward dan punishment yang disebutkan di dalamnya agar tetap relevan dan bijak di era modern.
Sebagai output utama dari perkuliahan ini, mahasiswa diajak berpikir kritis dan multidisipliner. Bu Rizki Firmananda, S.H.I memaparkan secara mendalam mengenai batasan kata memukul yang terdapat dalam hadis perintah salat ketika anak berusia sepuluh tahun. Pembahasan dikupas tuntas melalui dua sudut pandang utama. Dalam perspektif hukum silam, hadis ini menjelaskan bahwa pukulan yang dimaksud bukanlah bentuk pelampiasan amarah, melainkan edukasi (pukulan yang tidak menyakitkan atau membekas) dengan syarat dan batasan yang sangat ketat. Sedangkan, dalam perspektif psikologi perkembangan, hadis ini menyoroti dampak psikologis dari pola asuh disiplin agar orangtua atau pendidik tidak terjebak dalam siklus kekerasan fisik yang keliru.
Melalui integrasi dua perspektif ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami batasan konkret pola asuh islami agar di masa depan tidak terjebak dalam tindakan Kekerasan Dalam rumah Tangga (KDRT) atas nama mendidik anak. Acara yang berlangsung secara interaktif via Gmeet ini diakhiri dengan sesi tanya jawab yang dinamis, di mana para mahasiswa aktif mendiskusikan berbagai studi kasus kontemporer seputar pengasuhan anak dan penegakan disiplin ibadah. Selain itu, acara ini dilaksanakan sebagai bentuk investasi mahasiswa sebelum menghadapi kehidupan pernikahan.